Tips Mengontrol Bahaya Bekerja Sendirian

Seorang petugas keamanan diwajibkan melakukan patrol sendirian ke seluruh area tempat kerja. Biasanya, dia melakukan hal itu hanya dalam 20 menit, tetapi kali ini rekan-rekan kerjanya terpaksa harus mencari dia karena sudah 2 jam berlalu tapi petugas itu belum kembali. Ternyata, setelah rekanan kerjanya mencari, petugas itu ditemukan sudah tewas meninggal dengan tanda-tanda seperti serangan jantung. Pada kasus diatas, pertolongan yang lebih cepat mungkin saja dapat menyelamatkan nyawa petugas tersebut 

 

Kasus ini merupakan contoh kasus dari Pekerja Sendiri (Lone Worker). Health Safety Executive mendeskripsikan bahwa Pekerja Sendiri adalah mereka yang bekerja sendirian tanpa pengawasan langsung atau dalam jarak yang dekat. Pekerja sendiri akan kesulitan dalam meminta tolong karena tiada yang mendengar atau melihat mereka. 

 

Para pekerja sendiri dapat memperoleh resiko yang lebih berat dari pada mereka yang bekerja. Menurut TUC, Beberapa pekerja seperti petugas kesehatan, kurir pos dan jasa gawat darurat adalah yang paling banyak diserang. Di sebuah ritel dimana bekerja sendiri adalah umum, khususnya di “toko pojok” yang kecil, TUC menemukan 20. 000 penjaga toko diserang secara fisik di Inggris bahkan jumlahnya akan lebih banyak bila ancaman secara verbal juga dimasukkan. Berikut adalah 4 langkah dalam mengontrol bahaya dari Pekerja Sendiri : 

 

1. Pembuatan Prosedur

 

Prosedur yang khusus terkait dengan pekerja sendiri mutlak diperlukan untuk mengontrol bahaya dari pekerja sendiri. Prosedur itu dapat berisi skup dari “pekerja sendiri” itu apa saja, dalam durasi berapa dan apa definisi spesifik lain dalam pekerja sendiri. Prosedur juga dapat mengatur pembagian tanggung jawab dari manajemen juga dalam kasus bila ada intervensi kontraktor. Selain itu, pengendalian pada kondisi darurat juga dapat dimasukkan. 

 

2. Identifikasi Resiko

 

Semua lokasi dan pekerjaan yang masuk dalam kategori pekerja sendiri harus diidentifikasi dan direkam dalam dokumen. Penting juga agar karyawan-karyawan ikut serta dalam identifikasi resiko yang ada. Bagi Anda para pekerja yang membutuhkan perlindungan lebih untuk kaki Anda, temukan di tempat jual sepatu safety online terpercaya.

 

3. Pengendalian Resiko

 

Pengendalian resiko harus memperhitungkan hierarki pengendalian bahaya. Beberapa contoh pengendalian resiko berdasarkan hierarki pengendalian bahaya adalah sebagai berikut : 

 

- Eliminasi : Beberapa pekerja berbahaya seperti bekerja di atap dan di ruang terbatas mutlak harus menggunakan cara eliminasi bahaya bekerja sendiri. Setiap pekerja harus didampingi minimum oleh 1 orang dalam cara eliminasi 

- Substitusi : Misalnya merubah jam kerja, patroli malam diubah jadi hanya ketika siang dengan kondisi lebih ramai orang. 

- Pengendalian Engineering : beberapa contoh antara lain adalah 

         - Pemasangan CCTV 

         - Penggunaan Radio Handy Talky untuk tetap selalu berkomunikasi 

         - Penggunaan aplikasi panic button 

         - Penggunaan Life Saver yang bisa mendeteksi bila pengguna jatuh terbaring maupun                        bisa juga sebagai panic button 

 

- Kendali Organisasi : 

      - Pelatihan terkait dengan bahaya bekerja sendiri 

      - Membuat mekanisme setiap beberapa waktu sekali harus melapor ke orang terdekat 

      - Menggunakan izin kerja

 

4. Pemantauan Implementasi di Lapangan

 

Pemantauan pelaksanaan sangat penting dalam pengendalian bahaya pekerja sendiri. Dengan pemantauan, kita bisa lihat dimana titik lemah dalam pengendalian kita sehingga kita bisa selalu melakukan pengembangan yang terus menerus guna mencegah terjadinya kecelakaan akibat bekerja sendiri.

Write a comment

Comments: 1